Indonesia Quality Award
Bertahun-tahun, Indonesia sebagai negara – tidak secara formal mempunyai National Quality Award, namun telah sudah cukup banyak inisiatif dan upaya untuk mewujudkannya. Pernah ada adalah Indonesian National Quality Award “Nusa Adikualita” beberapa tahun yang lalu, namun dalam tahun-tahun sesudahnya tidak terdengar lagi kelanjutannya. Disamping itu ada inisiator lain yang ingin menggunakan “jalur” Departemen Perindustrian dan atau Departemen Perdagangan untuk membuat semacam Indonesian National Quality Award (INQA).
Belakangan ternyata, telah berjalan pula program Paramakarya yang diselenggarakan Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI (Depnakertrans) bekerja sama dengan APO (Asian Productivity Organization) khusus penghargaan untuk perusahaan kecil dan menengah (UKM) dengan menggunakan penilaian berbasis Kriteria Baldrige. Terakhir ini ditandai dengan “Small and Medium Enterprise Assessor Preparation Course” yang diberikan oleh Dr Luis Maria Ragasa Calingo di Jakarta pada tanggal 6 Desember 2006.
Sementara PMMI (Perhimpunan Manajemen Mutu Indonesia) yang berdiri sejak 1984 dan dipimpin oleh Laksamana TNI (Purn) Sudomo sejak tahun 1991, mengklaim dalam salah satu tujuan organisasinya sebagai arena kompetisi untuk merebut Indonesian Quality Award (IQA) di tingkat perusahaan. Namun belum jelas benar bentuk nyata program IQA yang dimaksud. PMMI sebagai perhimpunan yang fokus kepada mutu dan produktivitas itu lebih dikenal sebagai penyelenggara Konvensi Mutu Indonesia dan ICQCC (International Convention on Quality Control Circles) yang diselenggarakan setiap tahun. PMMI termasuk pendiri dan anggota CMM (Coordinators Committee Meeting) ICQCC. Untuk Tahun 2006, Indonesia kembali menjadi tuan rumah penyelenggaraan ICQCC ke 31 pada 20 – 24 November 2006 di Bali dengan tema “Insight Magic of Quality”. Ajang dimaksud juga digunakan untuk menguji kompetensi penerapan Quality Improvement Approach QCC masing-masing negara. Pada saat bersamaan diselenggarakan juga Konvensi Mutu Indonesia ke 16.
Hal yang serupa dilaksanakan oleh Wahana Kendali Mutu (WKM) yang setiap tahun menyelenggarakan Temu Karya Mutu & Produktivitas Nasional. Tahun 2006 yang lalu, menginjak temu karya ke sepuluh diselenggarakan di Yogyakarta pada tanggal 28 November sampai dengan 2 Desember 2006. Dalam acara yang bertajuk Temu Karya Mutu & Produktivitas Nasional X & World Quality and Productivity Congress 2006 ini berpuncak pada pemberian Penghargaan PLATINUM dan GOLD yang diberikan kepada PKM, GKM, dan SS yang “menang” setelah berkompetisi selama beberapa hari. Acara ini didukung antara lain oleh Depnakertrans dan Asia Productivity Organization (APO).
Namun demikian, di Indonesia selama ini sudah tercatat beberapa perusahaan seperti Sucofindo, PT Truba Jurong, PT Bogasari, PT Pertamina, dan PT Telkom yang telah “mendahului” mengadopsi Kriteria untuk Keunggulan Kinerja Baldrige di perusahaan masing-masing.
PT Telkom Indonesia melaksanakannya dengan bentuk Telkom-Quality Management System (Telkom-QMS) sejak akhir tahun 2000 yang merupakan integrasi ISO 9000:2000 dengan Kriteria Baldrige, program MBCfPE (Malcolm Baldrige Criteria for Performance Excellence) dengan Sharing on Excellence setiap tahun. Penilaian berupa Self-Assesment untuk internal Telkom sendiri yang meliputi seluruh unit organisasi termasuk Kantor Perusahaan, pada tahun 2005 telah memasuki tahun ke 5. Sayangnya, untuk penilaian tahun 2005 dan 2006 – program ini ditunda sehubungan dengan prioritas perusahaan dalam menghadapi audit kepatuhan terhadap Sarbanes-Oaxley Act 2002. Seperti diketahui, Telkom sebagai salah satu perusahaan yang terdaftar di New York Stock Exchange wajib hukumnya mematuhi Undang-Undang dimaksud. Namun untuk tahun 2007 jajaran Telkom cukup disibukkan dengan program The Best Datel Award 2007 berbasis Kriteria Baldrige untuk level Daerah Telekomunikasi seluruh Indonesia.
Pertamina menerapkan apa yang disebut Pertamina Quality Award (PQA) untuk seluruh unit organisasi di jajarannya sejak tahun 2003. Sedangkan untuk tahun 2004 terus dikembangkan termasuk untuk unit-unit organisasi di Kantor Pusatnya. Bahkan pada tahun-tahun berikutnya, “kewajiban” untuk menerapkan kriteria ini dilanjutkan terhadap anak-anak perusahaan – termasuk di dalamnya adalah unit-unit rumah sakit yang berada dalam lingkungan PT Pertamedika yaitu: Rumah Sakit Pusat Pertamina, Rumah Sakit Pertamina Jakarta, dan Rumah Sakit Pertamina di beberapa lokasi lainnya. Untuk Tahun 2006, pelaksanaan PQA berpuncak pada Penganugerahan Pertamina Quality Award 2006 di Hotel Borobudur Jakarta 22 Nopember 2006 paralel dengan penyelenggaraan Seminar & Penganugerahan IQA for BUMN 2006 di mana Pertamina bertindak sebagai “tuan rumah”.
Tahun 2003 sampai 2004 telah gencar didiskusikan oleh forum pimpinan puncak Badan Usaha Milik Negara (BUMN) inisiatif untuk menciptakannya. Akhirnya gagasan forum BUMN Eksekutif Club (BEC) ini direalisasikan dalam bentuk Anugerah Kinerja Ekselen Indonesia Untuk BUMN (Indonesian Quality Award for BUMN) yang akan dilaksanakan satu tahun sekali. Metode penyelenggaraan Anugerah ini dilaksanakan berdasarkan Pedoman Kriteria Kinerja Ekselen BUMN yang diterbitkan oleh Kementerian Badan Usaha Milik Negara Republik Indonesia dengan mengacu kepada Criteria for Performance Excellence yang digunakan untuk MBNQA.
Pada tahun 2005 tercatat sebagai peserta Anugerah Kinerja Ekselen Untuk BUMN (Indonesian Quality Award for BUMN) 2005 adalah: PT. Telkom, PT. Wijaya Karya, PT. Pertamina, PT. Krakatau Steel, PT. Waskita Karya, PT. Hutama Karya, Perum Perumnas, Angkasa Pura 2, PT. Petrokimia Gresik, Kawasan Berikat Nusantara, PT. Perkebunan Nusantara III, dan PT. Perkebunan Nusantara XIII.
Sedangkan yang tercatat sebagai peserta pada tahun 2006 adalah: PT. Telkom, PT. Wijaya Karya, PT. Badak NGL, PT. BNI, PT. Pertamina, PT. Petrokimia Gresik, PT. Perkebunan Nusantara III, PT. Waskita Karya, PT. Adhi Karya, PT. Bali Tourism Development Corporation, PT. Hutama Karya, Perum Perumnas, PT. Semen Gresik, dan PT. Taspen.
Pada tahun 2007 Anugerah Kinerja Ekselen Untuk BUMN berubah menjadi Indonesian Quality Award (IQA), dengan dasar bahwa kepesertaannya berkembang dari semula hanya diikuti BUMN, kali ini diikuti pula oleh dua perusahaan swasta (anak perusahaan BUMN PT. Krakatau Steel) yaitu Krakatau Bandar Samudra, dan Krakatau Industrial Estate Cilegon (KIEC).
Lihat juga:
Malcolm Baldrige National Quailty Award
Link:
Entries (RSS)